Saturday, February 23, 2013

Linguis: Siapa dia?

Gue sering banget berpikir sebenarnya apa sih gunanya ahli bahasa (linguis)? Pertanyaan ini kerap muncul akibat kegalauan akan sebuah pertanyaan besar, “akan jadi apa alumni ilmu sastra atau bahasa itu?”. Selama tiga setengah tahun lebih berkuliah ilmu bahasa, belum pernah ada yang menyadarkan gue fungsi linguis. So, wajar lah gue dan beberapa teman ga punya tujuan yang jelas mendalami ilmu bahasa ini. Walhasil dalam sebuah perenungan, entah kenapa gue tiba-tiba menemukan (mungkin) jawaban dari pertanyaan gue di atas. 

Pertama gue harus memperjelas dulu bedanya orang yang belajar ilmu bahasa dan orang yang mempelajari bahasa saja. Orang yang belajar bahasa akan mempelajari struktur gramatika, kosakata, tulisan, dan cara berbicara untuk memenuhi standar kemahiran bahasa yang ia pelajari tersebut. Jadi, apabila seseorang ini sudah bisa mendengar, membaca, menulis, dan berbicara dengan bahasa tersebut maka dapat dikatakan dia sudah sukses dengan apa yang ia pelajari. Mereka tidak akan repot-repot memikirkan apa itu sintaksis, semantik, fonetik, dan istilah-istilah linguistik lain karena ya sudah inilah batas pembeda pembelajar bahasa dengan pembelajar ilmu bahasa. Orang yang belajar ilmu bahasa akan mempelajari unsur-unsur linguistik seperti sintaksis, semantik, dan sahabat-sahabatnya. Unsur-unsur inilah yang akan menjelaskan rumus-rumus gramatika yang terbentuk dan logika dalam bahasa tersebut. 

Ketika kita belajar bahasa Inggris (gue ambil contoh bahasa Inggris karena gue yakin bahasa asing pertama yang kita semua pelajari pasti bahasa inggris), kita akan menemukan struktur gramatika baru yang berbeda dengan struktur bahasa Indonesia yang secara sadar maupun tidak sadar telah kita pahami lebih dulu. Pernah ga kepikiran siapa sih yang bikin pelajaran bahasa Inggris itu? Pake ribet ribet ada istilah tenses lah, conditional sentence lah, ada bentuk verb I, verb II, verb III, verb-ing, ada vereb vereb lainnya lah, dan lah lah yang lainnya lah. Hehe, pernah ga sih? Nah, di sinilah akhirnya gue tersadar. Ga mungkin banget istilah-istilah itu muncul tiba-tiba alaihim gambreng turun dari langit. Bakal jadi sesuatu yang konyol aja kalau buku-buku gramatika bahasa Inggris yang ada di toko-toko itu dicetak dan terbit tanpa ada orang yang dengan susah payah menemukan dan merumuskan konsep dan logika dari bahasa Inggris itu. Hm, panjang yah. Sederhananya, rumusan-rumusan gramatika tadi itu adalah buah pemikiran dan pekerjaan para peneliti bahasa, bertahun-tahun atau puluhan tahun atau mungkin juga ratusan tahun yang lalu. 

Pekerjaan mereka mungkin akan terdengar tidak penting. Dalam meneliti bahasa Inggris misalnya, mereka mendengarkan cara berbicara orang Inggris, kemudian menelitinya satu per satu, abjad, per abjad. Ya, mereka akan meneliti proses keluarnya bunyi dari mulut seseorang ketika orang itu mengucap A, B, C, semuanya sampai Z. Mereka akan memperhatikan mulut orang Inggris komat kamit, terus merumuskan bagaimana cara mengeluarkan suara yang sama seperti si orang Inggris menyebut huruf-huruf tersebut. Dari mulut sebelah mana, lidahnya geser ke sebelah mana, dll. 

Mereka juga akan meneliti konsep orang Inggris dalam membentuk kalimat. Jika membuat kalimat dengan subjek He, maka setelah itu akan dilanjutkan dengan is atau dengan verb yang diakhirnya diberi akhiran –s. Yup, inilah dia konsep tenses paling sederhana dalam bahasa Inggris yaitu simple present tense. Peneliti bahasa akan melihat tulisan-tulisan orang Inggris, entah itu di surat pribadi, surat pengumuman dari kerajaan (jadul yah), sampai tweet-tweet mereka juga (*lah, kenapa tiba-tiba jadi modern). Kepo ya? Iya, banget. Tapi ketahuilah wahai manusia, dari pekerjaan yang tidak penting ini sebenarnya mereka telah membuat sesuatu yang sangat sangat berguna untuk dunia. Ya, merekalah orang-orang yang selama ini kita cari. Merekalah pelaku pembuat aturan-aturan bahasa Inggris yang njelimet itu. 

Coba deh kita bayangin kalau orang-orang ini ga pernah ada. Hiks, ga kebayang kan gimana caranya kita belajar bahasa Inggris. Mungkin kita harus melototin mulut-mulut orang Inggris itu sama ngepoin twitternya tiap hari. Bayangin juga nasib penerjemah, guru-guru bahasa, dosen, dan profesi-profesi lain yang berkaitan dengan kebahasaan. Betapa rumit pekerjaan mereka tanpa bantuan linguis-linguis ini. Hubungan kerjasama antar negara juga bakal sulit terjalin kalau belajar bahasa menjadi semakin sulit. Hm, ternyata peran linguis-linguis ini bermanfaat banget yah untuk semesta alam. Jadi, gue rasa kita harus banget berterima kasih ke mereka. Hehe. Hasil dari pekerjaan “tidak penting” linguis-linguis ini akan menjadi rumusan-rumusan yang terangkum dalam sebuah buku pelajaran bahasa dan bisa dipelajari oleh orang-orang tanpa harus melalui proses panjang penciptaannya (gue rasa ga perlu menyebutkan lagi proses lihat mulut komat kamit sampai stalking akun twitter). Ini sama seperti kita menggunakan smartphone (tolong jangan iri, HP gue smartphone yah). Kita sebagai konsumen ga perlu tahu proses panjang pembuatannya, ya kan? 

Tapi kenapa sih, katanya ilmu bahasa itu ilmu pasti, bisa dirumuskan kaya matematika, ada logikanya, kok ga masuk di rumpun ilmu eksakta? Kenapa ada di rumpun humaniora? Kenapa ilmu budaya? Kenapa ga dimasukin ke Fakultas Teknik aja? Mungkin namanya ntar Teknik Bahasa gitu, bisa kan? Well, pertanyaan ini cukup masuk akal, tapi setelah gue renungkan, gue mulai paham kenapa ilmu bahasa diletakkan dalam jajaran rumpun humaniora bukan eksakta. Ilmu eksakta meneliti konsep logika yang berlaku di alam ini. Contoh sederhana, gravitasi, buah kelapa kalau jatuh dari pohon itu ya ke bawah bukan ke atas. Nah hukum alam ini ga bisa disamain sama hukum bahasa. Ketika kita mempelajari bahasa kita akan meneliti manusia. Yak, bahasa itu keluar dari mulut para manusia dengan semena-mena babibu tanpa basa basi. Kita ga tau kenapa hewan mamalia berkaki empat dan menggonggong itu kalau di Indonesia disebut ‘anjing’ kalau di Inggris itu namanya ‘dog’. Semuanya tergantung dari kesepakatan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Manusia dapat berkomunikasi sesuai dengan kesepakatan yang terjalin di alam bawah sadar mereka. Berkaitan dengan masyarakat, logika bahasa juga bergantung dengan masyarakat pengguna bahasa itu. Kalau di bahasa Arab dan mungkin di beberapa bahasa lain, semua benda punya jenis kelamin maskulin dan feminin. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang ga pernah ngebeda-bedain persoalan jenis kelamin ini. Nah mungkin aja, alasannya karena orang Indonesia sebenernya secara tidak sadar mendukung kesetaraan gender (mungkin loh yaa). Contoh lain, kalau di Inggris mau ngomongin suatu kejadian itu harus tau waktu kejadiannya. Makanya mereka punya 16 bentuk tenses dan dalam setiap kalimat kata kerjanya bisa berubah-ubah sesuai waktu kejadiannya. Beda banget sama di Indonesia. Mau kejadiannya kemarin, sekarang, besok, tahun depan, seabad lagi, kata kerja makan ya tetep makan. Ga bakal berubah jadi makaned, makaning, makans, dll. Ya mari kita ambil hikmah, berarti orang Indonesia itu suka kesederhanaan ga perlu yang rumit-rumit. Baik yah orang Indonesia. 

Kembali ke masalah, dari penjelasan barusan mulai tergambar kan kalau penelitian bahasa itu ga mungkin bisa dilakukan tanpa dibarengi dengan belajar kebudayaan pengguna bahasa tersebut juga. Makanya ilmu bahasa masuk di kajian budaya gitu. Ternyata udah panjang juga nih nulis. Yaudah daripada kelamaan mari kita masuk ke penutup. 
Jadi, kesimpulan dari penjelasan di atas, linguis itu adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan tidak penting yang berguna untuk semesta alam. Walaupun terkesan sepele, tetapi ternyata pekerjaan mereka membutuhkan daya intelektual yang tinggi dan kepekaan yang cukup untuk memahami kebudayaan yang mungkin asing untuk mereka. Hm, gue rasa linguis-linguis ini emang cukup keren. Tulisan ini lahir berdasarkan hasil renungan gue sembari mengerjakan skripsi yang berkaitan dengan sintaksis bahasa Arab. Berarti gue juga linguis dong? Yes, berarti gue keren. Mungkin ada beberapa kutipan yang gue lupa terinspirasi dari mana dan ga bisa gue tulis sumbernya, gue sebagai seorang akademisi memohon maaf yang sebesar-besarnya. Lain kali kalau gue ingat akan gue tulis. Sekian gue akhiri tulisan gue yang mungkin sedikit berat. Terima kasih banyak buat orang yang sudi membaca.  Cheers! Ditulis pada 2:41 AM 24/02/2013 di kosan.

Tuesday, February 12, 2013

2013, hope will be yours, Brokenslippers!

2013!!! Merasa sedih memiliki portal yang seharusnya bisa digunakan untuk berbagi (pamer) keberhasilan, kebahagiaan, atau mungkin sedikit kesedihan, tapi tidak diperlakukan semestinya. Oh blog yang menyedihkan semoga ini adalah tahunmu. Walaupun aku pun menulis di bulan februari (telat banget), semoga kau bisa menjadi blog yang membanggakan. Well, SEMANGAT MENULIS!!!