Thursday, February 24, 2011

Kuliah

Judul kuliah ini gue pilih karena gue nulis post ini pas lagi kuliah. (haha) Tepatnya dalam perkuliahan pranata Arab yang dibimbing oleh al-Mukarrom Pak Yon. Kok jadi kaya nama chinese ya? (Pak Yon : dibaca dengan aksen chinese). Berbicara tentang kuliah gue emang masih belum jelas untuk menjawab pertanyaan, untuk apa sebenarnya gue kuliah? terlebih lagi karena gue kuliah di sastra arab yang lulusannya punya peluang kerja jauh lebih kecil dari lulusan jurusan lain. (Ya, ini memang terdengar desperate. Tapi ini jujur)


...
...
...
...
...
...
...


Baiklah, setelah beberapa saat merenung, gue tidak akan mempersoalkan apa yang telah terjadi dan menurut gue lebih baik menatap masa depan(ya walaupun kabur, udah gitu ada awan gelap). Ya mari kita berjalan beriringan mengarungi masa depan.
Ok. I'll stop writing.
gue kuliah lagi.
Entah kenapa gue merasa harus menulis sesuatu di blog ini. Gue ga yakin sebenarnya apa yang gue rasain sekarang. Antara kesal, bingung, resah, argh!!!!!!!




tulisan ini ditulis
Jam 4.00 AM Waktu Indonesia Barat
sambil mengerjakan tugas Pranata Arab

Sunday, February 6, 2011

Part II (Jogjakarta)

Baiklah dengan ini saya nyatakan cerita liburan gue akan gue mulai lagi (motong pita terus ada orang-orang tepuk tangan). Perjalanan gue berlanjut dengan landingnya pesawat mandala airlines dengan nomor penerbangan … (berapa ya? haha gue lupa) di Bandara Internasional Adi Sutjipto Jogjakarta dengan mulus. Gue adalah tipikal orang yang ga suka berdesakan untuk segera keluar pesawat karena gue yakin ga mungkin pesawat ini bakal tiba-tiba berangkat atau apalah alasan yang bikin banyaaaaak sekali orang yang suka buru-buru pengen cepet keluar pesawat. Karena alasan tersebut jadi gue lebih suka menunggu orang-orang itu, kalau keadaan sudah tenang baru gue bergerak. Gue rasa ada beberapa keuntungan dari kebiasaan gue itu, misalnya gue bakal terhindar dari kemungkinan kecopetan di pesawat, gue juga bisa menyapa (atau bahkan ngobrol) mbak-mbak pramugari lebih lama karena ga bakal ada yang nyuruh gue cepet-cepet keluar. Keluar pesawat gue langsung disambut panasnya matahari Jogja yang sangat menyengat dan entah kenapa di sekitar matahari itu ada pelanginya (di akhir, gue baru tau kalo itu “halo matahari”).
Gue kemudian dijemput oleh dua orang temen gue bernama Ramji dan Hapid dengan mengendarai semobil jazz putih. Dari bandara gue langsung menuju kontrakan temen-temen gue sekaligus tempat gue nginep selama gue liburan. Sesampainya di kontrakan gue merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena bisa bertemu lagi dengan rekan, teman, sahabat, saudara, atau mau disebut apalah intinya mereka adalah orang-orang yang menjadi separuh jiwa gue (baiklah, ini emang sedikit berlebihan). Ternyata walaupun gue udah sekitar satu semesteran ga ketemu ama temen-temen gue lagi ternyata mereka masih aja tetap seperti itu (tenang kawan, ga akan gue deskripsiin. Gue tau itu aib). Tapi entah kenapa gue selalu kangen dengan kontrakan itu yang lembab, dengan barang berantakan dimana-mana, puntung rokok dan abunya yang berserakan gara-gara asbaknya keinjek terus ga ada yang mau tanggung jawab ngeberesin, botol-botol bir, dapur yang ga pernah dipake, temen-temen yang aneh, dan masih banyak lagi.
Cinta gue akan kontrakan sebenarnya cuma sebagian kecil dari cinta gue akan kota Jogja. Jogja punya banyak banget alasan kenapa gue harus mencintai Jogja dan harus sering kembali ke sana. Gue juga bingung, padahal gue belum pernah tinggal menetap di Jogja lebih dari satu bulan. Atau mungkin gue dikutuk gara-gara pernah naik motor ga pake baju malem-malem dari Kaliurang turun ke bawah yang DINGINNYA LUAR BIASA! (hiks, kenapa dulu gue melakukan hal itu). Ya apapun alasannya kayaknya gue emang udah terlanjur cinta Jogja. Kalau Andrea Hirata membagi kehidupannya dengan mosaik-mosaik, ya mungkin mosaik kehidupan gue selama ini setengahnya untuk Jogja.