Thursday, August 25, 2011

Bontang (Kisah Rumah Bagian Satu)

Kalo ada kata rumah mungkin selama ini yang ada di bayangan orang, ya rumah tempat dia dibesarin dan dilahirin. Tapi buat gue, sepanjang perjalanan hidup yang singkat ini, apa yang gue anggap rumah itu ada tiga. (Please, jangan bingung dulu hehe) Tiga rumah itu adalah : Bontang, Solo, dan Depok. Well, inilah dia rumah-rumah gue.

Bontang, mungkin tidak perlu ada penjelasan panjang mengapa ini menjadi rumah gue. Yak, ini kota kelahiran gue. (Boleh dicek di KTP atau akte lahir) Gue merasakan kehidupan bayi menuju balita menuju TK sampai akhirnya lulus SD. Bontang adalah kota kecil dengan penduduk yang hampir semuanya bekerja di pabrik-pabrik atau perusahaan tambang. Yak bontang memang kota industri. Banyak orang kemari dengan niatan bekerja di perusahaan-perusahaan itu, makanya jarang ada orang bontang asli. Kebanyakan pendatang semua. Bokap nyokap gue termasuk dari para perantau itu.

Ada dua perusahaan besar di Bontang, PT Pupuk Kaltim dan PT Badak. Pupuk Kaltim adalah BUMN yang bergerak dalam usaha produksi pupuk. Jadi kerjanya ya bikin pupuk. Nah, kalo di Jawa ada petani pake pupuk subsidi itulah pupuk yang dibuat ama Pupuk Kaltim (Kenapa pulau Jawa? Karena sawahnya ada di Jawa, Kalimantan langka sawah hiks) Selanjutnya adalah PT Badak. PT Badak itu kilang gas. Nah jadi kerjanya bikin gas alam cair (ilmiah banget gue). Denger-denger sih mereka yang tukang ekspor gas-gas itu ampe ke Jepang segala. Nah karena mereka ini perusahaan besar, mereka juga yang berperan penting dalam pembangunan kota Bontang. Jadi jangan heran kalau di Bontang banyak tulisan ”bantuan PT Pupuk Kaltim” atau ”bantuan PT Badak”. Tulisan-tulisan itu sering ada di jalan umum (jalan bantuan), beberapa fasilitas umum lain, sampai di gerobak-gerobak pedagang kaki lima (biasanya mereka binaan ibu-ibu istri karyawan).

Saking besarnya dua perusahaan ini mereka sampai ”membagi” Bontang jadi tiga bagian, wilayah Pupuk Kaltim, wilayah Badak, terakhir wilayah umum. Nah di wilayahnya si perusahaan itu seakan ada kota sendiri lagi. Jadi di sana ada Perumahan karyawan yang paling rendah sampai tingkatan direksi, Rumah sakit sendiri, sekolah sendiri, pasar sendiri, pokoknya semua sendiri. Ditambah lagi di wilayah ini (terutama di komplek direksi) ada border, jadi ga semua orang bisa masuk. Yak orang-orang yang bisa masuk cuma penghuni plus orang-orang yang ada keperluan kesana. Misalnya sekarang gue pengen ke rumah temen gue yang rumahnya itu di perumahan Pupuk Kaltim dengan mengendarai mobil. Kemudian gue akan menuju ke pos penjagaan atau pintu gerbang masuk ke wilayah itu. Nah disini akan diperiksa oleh satpam, mau kemana dan ada keperluan apa. Oiya, kalau kesini tiap mobil harus punya stiker juga. Seperti ini juga yang akan terjadi kalau mau masuk wilayah PT Badak. Rumit banget ya? Well, itulah Bontang.
Karena pembagian tersebut pergaulan orang-orang di Bontang juga terbagi-bagi. Orang PKT gaul sendiri, orang PT Badak sendiri, nah orang di luar dua perusahaan itu juga sendiri. Pembagian ini sudah sangat terasa bahkan ketika anak-anak kecil Bontang masih sekolah. Di TK atau SD, anak PKT ya main sendiri begitu juga dengan yang lain. Walaupun begitu, ada juga sih anak-anak yang ”go ahead”. Ya mereka mungkin tipe-tipe anak yang pandai bergaul walau dengan siapapun tanpa mengenal kasta apapun. Mudah-mudahan mereka sukses di masa depan. Haha amin. Kalau pernah membaca laskar pelanginya Andrea Hirata mungkin masyarakat seperti ini mirip-mirip dengan orang-orang Belitong dan orang-orang PN Timah.

Tinggal di Bontang mungkin selayaknya hidup di dunia ini, selalu ada kelebihan dan kekurangan. Kita bahas kekurangannya dulu. Bontang itu kan lumbung energi. Bontang itu kaya minyak, gas, batu bara bla bla bla. Tapi asal anda tahu, gue tinggal di Bontang sering banget ngerasain giliran pemadaman lampu. (Sumpah males banget kan zaman kaya gini ga ada listrik) Suplai BBM yang minim. (Kalau udah ada yang namanya antri beli bensin buset deh ampe berapa kilo itu jauhnya ga kebayang) Yak keadaan ini sangat ironi saudara-saudara! Mari kita sama-sama berdoa biar pemerintah membereskan segala kebusukan ini. Oiya, ada kekurangan lagi. Bontang ga punya mall atau pusat perbelanjaan atau apalah itu tempat gaul, bioskop, bla bla bla. Jadi ya kalo liat pergaulan anak bontang agak telat seribu tahun (berlebihan) harap maklum.

Tapi Bontang ga selamanya buruk. Banyak juga sisi positif Bontang lho. Seperti misalnya karena Bontang rata-rata penduduknya memiliki mata pencaharian, jadi tingkat kemiskinannya rendah. Karena tingkat kemiskinan rendah jadi kriminalitas juga rendah. Sebagai contoh, di komplek perumahan gue naro motor itu ya biasa aja di depan rumah gitu. Ga pake digembok cakramnya lah atau kunci tambahan lain atau dikasi alarm. Pokoknya aman lah Bontang. (Tapi untuk jaga jaga tetap waspada mungkin lebih baik *lho) Bontang juga kotanya bersih lho. Dapat Adipura berapa kali udah ga keitung. Mungkin ini karena rata-rata masyarakat Bontang teredukasi dengan baik jadi paham lah gimana cara menjaga lingkungan.

Duh, sebenernya masih banyak yang bisa diceritain dari Bontang tapi kita harus tinggalkan Bontang karena gue akan bercerita tentang rumah gue selanjutnya, SOLO.

*cari lebih banyak info tentang Bontang di google hahaha

Thursday, April 28, 2011

April


April 2011 = April mop
Gue ga pernah menggunakan hari ini untuk ngerjain orang. Entah kenapa gue berpikir, ngerjain orang itu bisa setiap saat. Lagian kalau udah ditentuin harinya kan jadi susah ngerjainnya.

April 2011 = Gue sakit
Hell! Gue hampir aja kena tipes. Untung Allah masih memberikan keringanan, jadi cuma dapat gejalanya doang. Ini semua juga ga lepas dari Nisaul Musyahadah yang sangat sabar nge treat gue dengan sepenuh hati dan buat semua temen-temen yang sudah menjenguk, love you all! Cheers!

April 2011 = UAN
Karena anak SMA pada ujian, gue jadi vakum ngajar selama 3 minggu. Program cari duit jadi terhambat.

April 2011 = ...
Ah, kayaknya masih banyak tapi kok jadi lupa ya?
oiya, ada habib haikal yang memberikan gue pengalaman aneh sekaligus pelajaran tentang uniknya kebudayaan.

Baiklah, karena beliau yang terakhir gue inget gue masukin fotonya.

Monday, March 21, 2011

Friday, March 18, 2011

Bingung

Judulnya adalah saya bingung. Oleh karena itu apa yang akan saya tulis di bawah ini isinya kebingungan.
Kenapa bingung? Saya pun tidak tahu.
Saya sendiri pun masih bingung harus saya apakan blog ini.
Saya sendiri juga bingung apa yang harus saya lakukan besok.
Saya sendiri sangat bingung tentang banyak hal.
Saya bingung
Bingung
Bingung
Bingung . . .
Baiklah saya menyerah.
...
...
...
Sial, sekarang saya bingung kenapa saya menyerah.


*note
coba pake google translate untuk menerjemahkan tulisan ini dengan bahasa arab (jadinya aneh)

Thursday, February 24, 2011

Kuliah

Judul kuliah ini gue pilih karena gue nulis post ini pas lagi kuliah. (haha) Tepatnya dalam perkuliahan pranata Arab yang dibimbing oleh al-Mukarrom Pak Yon. Kok jadi kaya nama chinese ya? (Pak Yon : dibaca dengan aksen chinese). Berbicara tentang kuliah gue emang masih belum jelas untuk menjawab pertanyaan, untuk apa sebenarnya gue kuliah? terlebih lagi karena gue kuliah di sastra arab yang lulusannya punya peluang kerja jauh lebih kecil dari lulusan jurusan lain. (Ya, ini memang terdengar desperate. Tapi ini jujur)


...
...
...
...
...
...
...


Baiklah, setelah beberapa saat merenung, gue tidak akan mempersoalkan apa yang telah terjadi dan menurut gue lebih baik menatap masa depan(ya walaupun kabur, udah gitu ada awan gelap). Ya mari kita berjalan beriringan mengarungi masa depan.
Ok. I'll stop writing.
gue kuliah lagi.
Entah kenapa gue merasa harus menulis sesuatu di blog ini. Gue ga yakin sebenarnya apa yang gue rasain sekarang. Antara kesal, bingung, resah, argh!!!!!!!




tulisan ini ditulis
Jam 4.00 AM Waktu Indonesia Barat
sambil mengerjakan tugas Pranata Arab

Sunday, February 6, 2011

Part II (Jogjakarta)

Baiklah dengan ini saya nyatakan cerita liburan gue akan gue mulai lagi (motong pita terus ada orang-orang tepuk tangan). Perjalanan gue berlanjut dengan landingnya pesawat mandala airlines dengan nomor penerbangan … (berapa ya? haha gue lupa) di Bandara Internasional Adi Sutjipto Jogjakarta dengan mulus. Gue adalah tipikal orang yang ga suka berdesakan untuk segera keluar pesawat karena gue yakin ga mungkin pesawat ini bakal tiba-tiba berangkat atau apalah alasan yang bikin banyaaaaak sekali orang yang suka buru-buru pengen cepet keluar pesawat. Karena alasan tersebut jadi gue lebih suka menunggu orang-orang itu, kalau keadaan sudah tenang baru gue bergerak. Gue rasa ada beberapa keuntungan dari kebiasaan gue itu, misalnya gue bakal terhindar dari kemungkinan kecopetan di pesawat, gue juga bisa menyapa (atau bahkan ngobrol) mbak-mbak pramugari lebih lama karena ga bakal ada yang nyuruh gue cepet-cepet keluar. Keluar pesawat gue langsung disambut panasnya matahari Jogja yang sangat menyengat dan entah kenapa di sekitar matahari itu ada pelanginya (di akhir, gue baru tau kalo itu “halo matahari”).
Gue kemudian dijemput oleh dua orang temen gue bernama Ramji dan Hapid dengan mengendarai semobil jazz putih. Dari bandara gue langsung menuju kontrakan temen-temen gue sekaligus tempat gue nginep selama gue liburan. Sesampainya di kontrakan gue merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena bisa bertemu lagi dengan rekan, teman, sahabat, saudara, atau mau disebut apalah intinya mereka adalah orang-orang yang menjadi separuh jiwa gue (baiklah, ini emang sedikit berlebihan). Ternyata walaupun gue udah sekitar satu semesteran ga ketemu ama temen-temen gue lagi ternyata mereka masih aja tetap seperti itu (tenang kawan, ga akan gue deskripsiin. Gue tau itu aib). Tapi entah kenapa gue selalu kangen dengan kontrakan itu yang lembab, dengan barang berantakan dimana-mana, puntung rokok dan abunya yang berserakan gara-gara asbaknya keinjek terus ga ada yang mau tanggung jawab ngeberesin, botol-botol bir, dapur yang ga pernah dipake, temen-temen yang aneh, dan masih banyak lagi.
Cinta gue akan kontrakan sebenarnya cuma sebagian kecil dari cinta gue akan kota Jogja. Jogja punya banyak banget alasan kenapa gue harus mencintai Jogja dan harus sering kembali ke sana. Gue juga bingung, padahal gue belum pernah tinggal menetap di Jogja lebih dari satu bulan. Atau mungkin gue dikutuk gara-gara pernah naik motor ga pake baju malem-malem dari Kaliurang turun ke bawah yang DINGINNYA LUAR BIASA! (hiks, kenapa dulu gue melakukan hal itu). Ya apapun alasannya kayaknya gue emang udah terlanjur cinta Jogja. Kalau Andrea Hirata membagi kehidupannya dengan mosaik-mosaik, ya mungkin mosaik kehidupan gue selama ini setengahnya untuk Jogja.

Sunday, January 30, 2011

2011 Vacation (Part I)

Liburan gue berawal dari tanggal 4 Januari 2011. Oiya, sebelumnya gue kasi tau ini liburan gue dalam rangka libur kuliah semester ganjil. Nun jauh hari sebelumnya gue emang udah merencanakan liburan ini sebaik mungkin mulai dari destinasi transportasi sampai akomodasi. Ya, pokoknya semua udah rapi tersusun dalam pikiran gue. Beruntung juga tiba-tiba dewi fortuna serasa memberikan jalan yang mulus buat gue, permasalahan transportasi langsung gue selesaikan gara-gara dapet tiket promo mandala bolak-balik Jakarta-Jogja (*Ingat! ini dewi fortuna masih membantu).
Yak, hari keberangkatan pun tiba dan ketika itu gue harus sedikit tergesa-gesa karena bangun kesiangan dan takut kena macet ke airport. Berangkatlah gue dianter Tigor dari rumahnya (temen gue), langsung ke terminal busway kampung melayu. Dari situ gue berpisah dan melanjutkan perjalanan sendiri sampai di stasiun gambir. Di Gambir gue harus menunggu Nisa’ul Musyahadah tercinta (selanjutnya kita sebut dia Mamat--dia pacar gue) yang mana sebelumnya gue udah janjian untuk berangkat bareng dia ke airport. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dia muncul dengan cengar cengir tanpa dosa padahal gue udah nungguin dengan penuh kegelisahan takut aja ketinggalan pesawat. Berangkatlah gue dengan Damri dari stasiun gambir ke Bandara. Sepanjang perjalanan tidak ada yang spesial hanya obrolan-obrolan biasa, bahkan mungkin garing karena mungkin di satu sisi gue udah ga tahan pengen meninggalkan Jakarta sesegera mungkin dan di sisi lain mungkin si Mamat ga tau mau ngomong apa karena bingung harus melakukan apa untuk mencegah gue liburan yang meninggalkannya sendirian (hihihi). Perkiraan gue, gue bakal nyampe bandara mepet dan ga ada waktu buat perpisahan-perpisahan berlebihan atau apalah itu yang pake nangis-nangisan kaya di pilem-pilem. Eh ternyata, gue nyampe di airport lebih cepat satu jam setengah dari waktu seharusnya gue check-in dan berangkat (pasti si Mamat sangat senang). Karena masih lama yaudah gue pacaran dulu di airport. Suasananya waktu itu sepi, ga banyak orang yang mau berangkat, ga ada kesibukan-kesibukan yang kelihatan ribet, ga ada antrean panjang, dan yang paling menyentuh kebanyakan penumpang bergaya santai, bawa ransel, bersendal jepit, nenteng-nenteng kamera, pokoknya suasana liburan banget.
Singkat cerita gue melalui waktu menunggu pesawat bersama si Mamat dengan obrolan-obrolan romantis yang pasti bikin banyak orang iri (Iya sayang, ini emang bohong. Biar kayaknya kita romantis aja). Akhirnya waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB dan itu berarti gue udah harus berangkat (hiks hiks). Tiba-tiba mengalun lagunya Chantal Kreviazuk, Leaving On A Jet Plane. So kiss me and smile for me Tell me that you wait for me Hold me like you never let me go Cause I’m leaving on a jet plane and I don’t know when I’ll be back again. Tiba-tiba si Mamat memotong, “Eh sayang, emang iya kamu ga tau pulang tanggal berapa? Kan kamu udah beli tiket tanggal 12 balik ke Jakarta.” Gue jawab, “Ya kan ga ada yang tau sayang, kan ga ada yang pasti.” Setelah itu gue melakukan perpisahan singkat dengan si Mamat, ya cukup dengan pelukan erat dan satu ciuman di jidat akhirnya dia harus merelakan kepergian gue walaupun di mukanya keliatan banget ga ikhlas. Sambil jalan ke ruang tunggu keberangkatan gue terus berpikir omongan gue barusan yang menyatakan ketidakpastian pulang dalam liburan gue ini. Tiba-tiba suasana bandara terasa mencekam dan menjadi gelap. Awan mendung tiba-tiba muncul menghalangi sinar matahari yang tadinya begitu cerah. Hm, bakal ada apa ya?

2011 Vacation (Intro)

Akhirnya ada waktu juga untuk bisa nulis gara-gara kesibukan bulan desember yang isinya ujian ujian dan ujian, ditambah kesibukan bulan januari yang isinya liburan liburan dan liburan (hahaha). Well, untuk postingan pertama di 2011 ini gue memilih untuk menceritakan liburan gue. Kenapa gue memilih itu karena emang ga ada lagi yang bisa di posting (haha). Ga mungkin kan gue bikin puisi-puisi cinta, atau karya sastra berat yang dibaca sekali belum tentu ngerti, atau cerpen, atau malah novel. Hm, karena liburan gue lumayan lama dari tanggal 4 ampe 27 Januari jadi gue bikin ceritanya bertahap, sepenggal demi sepenggal sepotong demi sepotong. Yaudah sekian prolognya mudah-mudahan ada yang membaca. *harapan blogger kekurangan pembaca