Sunday, October 12, 2014

Tema, Unsur Utama yang Sering Terlupa


"Kenapa ya setiap pelaksanaan FTT, dari pertama sampai yang terakhir, belum pernah tema acaranya sejalan dengan pelaksanaan?"


Pertanyaan itu sering sekali hinggap di pikiran saya ketika sengaja maupun tak sengaja mengenang Festival Timur Tengah (FTT), acara paling akbarnya Sastra Arab Universitas Indonesia. Mulai dari 'Pesona Negeri Seribu Menara' sampai 'Kemilau Warna Negeri Matahari Terbenam' termasuk juga diantaranya FTT yang saya pimpin, saya menilai minim sekali keterkaitan tema yang diusung dengan pelaksanaan termasuk konten-konten acaranya.

Mari mengenang pelaksanaan FTT 2010 yang menggunakan tema 'Pesona Negeri Seribu Menara'. Pada FTT paling pertama itu, hampir tak saya temukan korelasi tema dengan pelaksanaan. Mungkin ada upaya untuk membangun menara-menara sebagai dekorasi. Akan tetapi, untuk konten acara boleh saya katakan tidak ada unsur menara-menaranya.

Melompat ke FTT 2012, pelaksanaannya juga melenceng dari tema. 'Meraih Semangat Peradaban Timur Tengah' sebagai tema kala itu, bisa saya nyatakan jauh dari yang akhirnya ditampilkan. Dengan dekorasi khas Mesir, tamu paling penting yang bisa diundang justru Duta Besar Irak. Acara yang ditampilkan hanya satu yang menyinggung peradaban. Sisanya kajian linguistik, tari perut, dan kelas kecantikan. Mungkin sama seperti FTT 2010, banyak orang yang abai atau justru tidak sadar dengan masalah ini karena tema yang diusung cukup luas maknanya. Walhasil, ketidaknyambungan tadi menjadi termaafkan.


'Pesona Negeri 1001 Malam'-nya FTT 2013 dan 'Kemilau Warna Negeri Matahari Terbenam'-nya FTT 2014 juga melanjutkan ketidaknyambungan FTT kakak-kakaknya. Tema 2013 jelas menyiratkan harapan dukungan Irak sementara 2014 berharap dukungan Maroko. Tapi, yang terjadi justru di dua FTT ini penyumbang besarnya adalah Arab Saudi.

Setelah saya renungi dan mengingat-ingat, satu-satunya yang bisa saya berikan acungan jempol adalah FTT 2011. Tema 'Arabian Fairy Tales' diadaptasi dengan baik ke dalam acara. Karnaval menggunakan kostum dongeng Arab, diskusi Abu Nawas, dan bedah buku Ranah 3 Warna si Ahmad Fuadi saya rasa cukup mewakili tema. Meski begitu, lagi-lagi banyak yang tak terkenang dengan tema ini karena dalam beberapa acara pengunjung yang hadir sedikit sekali (ini juga kerap menjadi masalah pada FTT edisi lain). Saya ingat ketika itu, semua Liaison Officer (LO) dikerahkan untuk menggiring kontingen ke Auditorium Gedung 9 agar setidaknya ada yang mendengar Pak Maman Lesmana yang ketika itu menjadi pembicara.


Saya tertarik membahas tema karena ini momen menentukan untuk panitia FTT yang akan datang. Pembahasan tema sebagai pegangan penting panitia dalam membawa arah acara harus lebih dipikirkan masak-masak. Saya menilai banyak orang setelah pelaksanaan FTT akan langsung lupa dengan tema tahun itu. Ini saya anggap disebabkan oleh kurangnya daya tarik tema dan implementasinya dalam setiap acara.

"Lantas bagaimana cara membuat tema bisa dikenang?"

Saya menyadari mimpi mewujudkan tema yang bisa terus dikenang perlu banyak unsur pendukung. Pemilihan tema jelas harus catchy sehingga menempel di memori pengunjung bahkan panitia sendiri. Kemudian setelah mendapatkan tema, panitia terutama yang mengurusi acara dan perlombaan di FTT harus bisa menerjemahkan tema untuk diterapkan. Oleh karena itu, pembahasan tema jelas harus mengikut sertakan panitia-panitia acara dan lomba. Pimpinan FTT harus punya gagasan yang menarik dan tentu saja harus sinergi dengan tim pelaksana. Sehingga ke depannya tema yang akan diusung menjadi kesepakatan yang matang dan akan ditegakkan dalam setiap unsur FTT.

Memang mudah bagi saya untuk berteori. Akan tetapi, saya yakin celotehan saya bukan isapan jempol belaka. Sastra Arab kini punya sumber daya yang luar biasa. Ulasan yang saya buat ini sekadar untuk mengingatkan bahwa ada hal yang perlu diubah dalam perjalanan FTT selama lima tahun ini. Langganan juara umum Olimbud, cetak sejarah dengan juara Petang Kreatif tahun kemarin, dan banyak prestasi lain adalah bukti bahwa Arab pasti bisa kalau ingin berusaha.

Monday, April 14, 2014

Kebersamaan Jumat di Tengah Minoritas Kamboja


Jumat adalah hari berkumpul untuk umat Islam. Di hari itu, seluruh muslim laki-laki wajib menunaikan Salat Jumat. Kewajiban melaksanakan Salat Jumat di masjid membuat momen tersebut menjadi ajang silaturahim antar sesama muslim. Pada Jumat (25/10/13), saya berkesempatan menunaikan Salat Jumat dan bertemu dengan masyarakat muslim di negara dengan mayoritas penduduk penganut Buddha Theravada, Kamboja.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 11.30 waktu Kamboja. Tuk-tuk membawa saya ke pusat kota Siem Reap menjauhi komplek candi Angkor Wat. Saya berencana mencari masjid untuk menunaikan Salat Jumat. Radi, supir tuk-tuk yang saya tumpangi, mengaku tahu lokasi salah satu masjid di Siem Reap.

Sampai di pusat kota, Radi membawa saya memasuki beberapa ruas jalan kecil. Saya mengamati beberapa kali wajah Radi tampak ragu dengan jalan yang ia pilih. Saya pun mulai ragu apakah ia yakin benar tahu lokasi masjid yang ingin kami tuju. Tuk-tuk kemudian berhenti di sebuah bangunan yang tampak sepi. Saya bingung, tidak mungkin masjid sepi di waktu Salat Jumat. Saya menengok memeriksa bangunan tersebut. Ternyata bangunan tersebut adalah gereja.

Saya coba jelaskan lagi ke Radi bahwa yang ingin saya tuju adalah masjid, tempat ibadah umat Islam, bukan gereja. Radi tidak terlalu pandai berbahasa Inggris. Beberapa kali saya harus menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan maksud saya.

Tuk-tuk bergerak lagi meninggalkan gereja. Kali ini Radi yakin tempat yang ia tuju adalah masjid. Tak lama kemudian, tuk-tuk memasuki jalanan yang tidak beraspal. Dari kejauhan saya melihat bangunan berwarna coklat tua yang dikelilingi pagar dengan gerbang sederhana. Masjid An Neakmah, begitulah tulisan yang terdapat di gerbang tersebut.

Saya memasuki pelataran masjid dan kemudian mengamati sekeliling. Bangunan masjid ini tidak begitu besar, setara dengan ukuran masjid tingkat kelurahan di Indonesia. Berdasarkan prediksi saya, masjid ini dapat menampung sekitar 200 orang. Di sekitar masjid terdapat beberapa rumah warga. Ketika saya masuk ke dalam ruangan masjid, saya merasakan bangunan ini sangat sederhana. Sentuhan arsitektur tidak terlalu menonjol. Hanya ada dua kaligrafi arab berbingkai dengan tulisan Allah dan Muhammad tergantung di depan mihrab imam. Seluruh permukaan lantai tertutupi sajadah dengan corak yang berbeda-beda. Hanya barisan terdepan yang coraknya seragam.

Ketika itu, masjid belum ramai. Saya duduk di belakang salah satu tiang pondasi masjid itu. Saya tertarik pada sebuah rak dengan deretan Al-Qur’an yang tersusun rapi di sisi tiang tersebut. Saya terkejut ketika menemukan sebuah buku berwarna hitam yang sangat saya kenali. Buku itu adalah Buku Iqro’ yang sering digunakan sebagai buku ajar TPA di Indonesia.

Saya membolak balik Buku Iqro’ itu masih dengan perasaan takjub. Tiba-tiba seorang pria menghampiri saya dan kemudian menyapa saya dengan salam. Saya menjawab salamnya. “Datang dari mana?” tanyanya dengan aksen melayu. “Indonesia,” jawab saya. Dari aksen melayunya saya pikir pria ini berasal dari Malaysia. Ternyata saya salah. Pria itu menjelaskan bahwa dia adalah orang Kamboja. Ia juga memperkenalkan dirinya. Namanya Yaqub tapi masyarakat sekitar sering memanggil dia dengan tambahan gelar haji di depannya. Haji Yaqub berusia 65 tahun. Ia belajar bahasa melayu secara otodidak lewat pertemuannya dengan orang-orang Malaysia dan Indonesia di masjid ini.

“Orang Indonesia sering datang ke sini. Biasanya yang datang anggota jama’ah tabligh,” ungkap Haji Yaqub. Ia juga menjelaskan bahwa Buku Iqro’ yang saya pegang adalah sumbangan orang Indonesia yang berkunjung.

Haji Yaqub kemudian bercerita tentang muslim di Kamboja. “Kami ini orang Champa. Nenek moyang kami sudah ada di Kamboja sejak Angkor Wat dibangun,” ujarnya. Muslim di Kamboja tersebar di seluruh penjuru wilayah. Mereka hidup berdampingan dengan orang Khmer yang menganut agama Buddha. “Anak-anak Champa belajar Islam di pagi hari, belajar Buddha di sore hari,” canda Haji Yaqub terkait dengan pendidikan anak-anak mereka. Ia mengaku selama ini tidak pernah ada masalah dengan penduduk mayoritas.

“Kami masih kekurangan tenaga pengajar agama Islam,” keluh Haji Yaqub. Bantuan berupa relawan atau donasi barang maupun uang masih sangat diperlukan masyarakat muslim di sini. Hal ini tentu sangat diperlukan karena Kamboja masih termasuk negara termiskin di dunia.

Orang-orang mulai berdatangan memasuki masjid. Beberapa orang yang lewat di samping kami menyapa Haji Yaqub. Haji Yaqub kemudian berpamitan dan menuju barisan terdepan. Masjid kemudian dipenuhi jamaah. Adzan dikumandangkan dua kali disusul dengan khutbah berbahasa Khmer. Beberapa orang serius menyimak namun ada pula yang mengantuk dan kemudian tertidur. Setelah khutbah kedua, muadzin mengumandangkan iqamah. Para jamaah kemudian bangkit berdiri untuk melaksanakan salat. Salat dilaksanakan dalam dua rakaat dengan imam yang bersuara cukup merdu melafalkan surat-surat pendek.

Seusai salat, para jamaah berdzikir dan kemudian berdoa. Ketika saya beranjak keluar saya menemukan beberapa pria sedang menghitung uang dari kotak infaq. Saya kemudian duduk sejenak di teras masjid. Saya memperhatikan orang-orang yang keluar. Saya merenungi apa yang telah saya saksikan. Mereka adalah para muslim sekaligus minoritas di negara ini. Di hari jumat ini saya sempat berkumpul bersama mereka.